Bocah di Bebatuan
Terbang ke Gaza, ah pikiran mana yang akhirnya memotivasi ku. Tapi aku berangkat juga akhirnya. Aku sebagai seorang tenaga medis tiba-tiba mendaftarkan diri untuk bergabung menjadi tim SAR. Bukan, bukan karena aku berjiwa sosial atau tergerak hatinya. Aku bukan orang seperti itu, sungguh. Karena jabatan, ya tentu saja. Aku akan naik tingkat setelah melakukan pekerjaan ini.
Aku melangkahkan kakiku yang berat. Takut, pasti. Jalur Gaza seperti tanah gersang di mataku. Sunyi, hanya samar ada deru mobil atau tank mungkin. Aku menyusuri jalan mengikuti rombongan. Tak lama kami sampai di tenda-tenda tempat pengungsian. Aku meletakkan barang-barang ku di tenda. Duduk sejenak melihat sekeliling. Sampai mataku tertuju pada sekelompok anak yang bermain bersama seseorang, orang Indonesia sepertinya, meskipun fasih sekali berbahasa Arab. Anak-anak tertawa dan menyanyi bersamanya. Aku tersenyum melihat mereka. Orang itu pasti relawan yang tergerak hatinya, bukan seperti aku.
Aku melihat ke arah lain, dan mataku menemukan seorang anak yang menangis di bebatuan. Seorang anak laki-laki sekitar tujuh tahun mungkin. Ia memakai kaos lusuh dengan celana, matanya sembam. Aku melangkah mendekati nya. Ah, sial. Coba aku bisa bahasa Arab.
Tapi aku tetap mendekatinya. Saat tangan ku menyentuh punggungnya, ia berbalik dan memelukku. Ia menangis sambil berbicara tapi aku tak bisa mengerti. Hah, jadilah aku seperti bisu di sini.
"Dia menangisi kakaknya, kemarin tertembak," suara seseorang tiba-tiba di sampingku. Aku masih memeluk bocah laki-laki kecil itu.
Dia seumuran anakku. Anakku mungkin masih sekolah bermain bersama guru dan teman-temannya. Menangis, anakku yang manja itu paling menangis kalau permintaannya tidak dipenuhi. Sedangkan bocah di bebatuan ini, mau minta pada siapa dia.
"Dia sudah tidak punya siapa-siapa, ibunya meninggal, ayahnya bahkan tak ditemukan jasadnya, membaur bersama pejuang-pejuang lain yang mereka sebut pemberontak. Sementara kakaknya kemarin baru saja tertembak," terang seseorang di sampingku.
"Dokter baru datang kan?" lanjutnya.
"Iya, namaku Yusril salam kenal Pak," ucapku sambil menyalami lelaki yang sedari tadi duduk di sampingku.
"Saya Wildan," ia menyambut uluran tanganku.
"Tim SAR?" tanyaku lagi.
"Iya, tiga bulan sekali aku pulang," ia meminum air putih botol di tangannya.
Anak laki-laki kecil itu tertidur di pangkuan ku. Tampak lucu, meringkuk, persis seperti anakku. Wajahnya manis, kulitnya putih hanya kotor karena debu. Anak ini, ah apa pikiranku ini. Entah hatiku tiba-tiba bergetar, aku terguguk pelan. Aku tahan khawatir barang kali ia terbangun. Aku hanya menghela nafas pelan.
Apa yang akan dilakukan anak sekecil ini, pikiranku kali itu, dan plash seperti sihir.
Empati ku muncul. Aku yang bermula pada orientasi jabatan hilang sudah. Aku tidak akan seminggu di sini, aku akan bertahan. Aku akan mengurus mereka, sebisaku.
Puing
24.07.17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar