Sabtu, 08 Juli 2017

Bukan Bandung dan Jonggrang part.3

Bukan Bandung dan Jonggrang
Part.3
Kehilangan

Hari itu adalah hari naas. Saat kutukan dan sumpah serapah didengar langit. Ia pun hanya tinggal meratapi sesal. Menatap pujaan hatinya telah membatu. Matanya masih lekat menatap patung batu yang tak lain adalah Roro Jonggrang. "Apa yang telah aku lakukan," bisiknya masih penuh sesal. Kini ia telah kehilangan wanitanya. Ia bak hampa, apa ia bisa. Kehilangan sekalipun masih bisa ia tatap. Apa guna, hampa ia rasa. Bisa menatapnya tapi tak bisa melakukan apa-apa. Pun sekedar bercakap tak bisa. "Apakah lebih baik jika benar-benar tak ada," ujarnya lagi dengan tatapan kosong. Ia pun berbalik dan mulai melangkah perlahan. Meninggalkan cintanya yang telah membatu. Perlahan titik-titik gerimis berjatuhan seolah langit ikut menangisinya. Wajah batu itu masih menatapnya dari kejauhan. Sekalipun ia terus melangkah menjauh. "Maafkan aku, Bandung," batinnya. Nasi telah menjadi bubur. Ia telah menjadi batu. Kutukan sang Bandung manjur baginya. Apa daya. Mungkin benar, lebih baik benar-benar kehilangan dari pada tetap di depan mata tapi menyapanya pun tak bisa.
Aku membenamkan kepalaku di atas buku Roro Jonggrang yang masih terbuka. Aku seperti merasakan hal yang sama. Bisa melihat nya tapi menyapanya pun tak bisa.
Kini mataku mengarah pada sosok laki-laki yang tengah duduk di teras kantin itu. Biasanya aku ada di sampingnya, bercanda, ngobrol, apa saja, bersama. Tapi kini, ah..
"Maaf Kinan, tapi kau harus mengerti," ucap seorang wanita separuh baya dengan pakaian glamor. Ia turun dari mobilnya dan menemuiku pulang sekolah, mengajakku makan siang dan ternyata ini tujuannya. Ya, memintaku menjauhi anaknya.
"Raka baru saja merilis singel, dan booming, mama tidak ingin usahanya sia-sia hanya karena terjebak gosip murahan," terangnya lagi.
Aku masih diam, mencoba mencermati kata-katanya.
"Tolong menjauhlah dari Raka," ucapnya sambil menunjukkan selembar foto.
Aku mengambil foto itu, tampak aku dan Raka yang sedang makan es krim bersama. Apakah menjadi temannya pun tak boleh? Batin ku.
"Kami hanya berteman, Tante," akhirnya aku bersuara juga.
"Tante mengerti, tapi apakah wartawan-wartawan itu akan mengerti, apakah fans akan mengerti, apakah agensi juga mengerti, tidak Kinan," terangnya, "Akan sulit memberi penjelasan pada banyak kepala, karena itu lebih baik Tante minta pengertian mu," lanjutnya.
Aku diam. Mungkin inilah akhir. Sebenarnya aku ingin membela diri. Apa masalahnya, kenapa berteman saja tak boleh. Sesusah itu kah?
Hari berlalu. Ternyata bukan hanya ibunya, anaknya juga benar-benar patuh. Ia menghilang dari rutinitas ku. Padahal ia di depan mata tapi aku telah kehilangannya, sahabat.

Puing
5717

Tidak ada komentar:

Posting Komentar