Ikhlas, semudah itu kah?
#smansamenulis02
Sebenarnya aku enggan menulis apapun.
Apapun tentang bintang, tentang pelangi, tentang warna biru, tentang danau yang berikan kedamaian, tentang nyanyian yang berdengung di surga, tentangmu, tentangku.
Aku tak ingin menulis apapun.
Tapi, jika aku hanya bisa menuliskan kata, sebagai pelarianku saat waktu seakan mencekik leherku, dan ketika nafas berubah menjadi carbon monoksida pedih yang siap membunuhku kapan saja, tak bernafas mati, bernafas pun sama saja.
tapi kematian tak menjadi pilihanku,
tentu saja.
Aku bersyukur masih memiliki apa yang orang sebut ‘iman’,
dan iman itulah yang membuat aku bertahan, imanku pada Sang Pencipta Hidup.
Sesekali ku pandangi bintang di langit, sekedar mengalihkan mataku dari monitor, tapi ingatanku justru mengarah padanya, huh, bodoh!
ku telungkupkan wajahku, semakin aku berusaha, semakin perih.
“Bisa minta tolong,” suaranya masih terdengar hangat di telingaku, sekali pun aku tahu, ia berusaha mati-matian supaya suara hangatnya itu menjadi sedingin kutub, dasar bodoh, kau tak akan bisa, suaramu tetap terasa hangat di telingaku.
“Tolong jangan pakai Purple Paris Hilton di sini,” ucapnya tanpa menatapku.
aku tertunduk tanpa menjawab barang sepatah katapun, aku tercekik, dan memang telah lama tercekik, oleh apa yang mereka bilang tentang cinta.
aku tersenyum tipis, tetap dengan kepala menunduk, ‘ia masih hafal parfumku,’ karena itu, bohong jika ia berkata sudah tak mencintaiku, persetan apa orang bilang tentang cinta.
Kegiatan di pesantren kali ini adalah duri beracun bagiku, karena seperti biasa aku dan dia selalu satu kepanitiaan. Aku mengurusi santri putra dan ia mengurusi santri putri.
aku banyak diam kali itu, aku sudah bilang, aku tercekik, oleh cinta yang bukan pada tempatnya.
“Zam, kamu udah makan?” aku segera menoleh ke pintu, lamunanku buyar, tampak Kak Tami dengan stelan blouse biru muda, biru muda, uhh, itu warna kesukaannya.
“Belum.” Jawabku pendek seraya mengembalikan fokusku ke monitor.
“Makan dulu, ba’da isya kan masih ada kegiatan di pesantren, nanti berangkat bareng ya?”
ku matikan notebook ku dan menuju tempat makan, sekali pun aku malas untuk makan, paling tidak aku tidak ingin tampak sedang punya beban berat di depan orang tuaku.
Ba’da isya ku boncengkan kak Tami dengan sepeda motorku,
“Ganti parfum ya?”
“Iya.”
Mana mungkin ku ceritakan pada kak Tami tentang ia, bintang itu sahabat kak Tami, sekalipun tak terlalu dekat, tapi tetap saja, aku tak ingin kak Tami tahu.
Di pesantren setelah usai acara dan berkemas-kemas, ku pandangi bintang dari jauh, ia berjalan bersama santriwati yang lain, berjalan pulang, meninggalkanku yang masih tercekik waktu.
Dua minggu yang lalu, bintangku baru saja disunting langit,
dan aku tak punya daya, bahkan untuk menangisi kepedihanku pun aku tak punya hak.
terlalu picik hatiku memahami cinta, sampai tidak bisa membatasi, yang mana yang boleh ku cinta dan yang mana yang haram ku cinta, Namun, dosakah cinta?
aku tertunduk di altar masjid, menyepi bersama mereka yang khusyuk iktikaf, tetapi aku malah pada bayangan bintang.
Tuhan,
bahkan aku sering membodohkan diriku sendiri kenapa jatuh cinta pada bintang, padahal ada puluhan wanita lain, tapi kenapa bintang, kenapa bintang, kenapa bintang?
Aku tak tahu berawal dari mana, biar ku kilas balik dosaku ini,
Nama bintang itu, Salyata Fairuz, aku biasa memanggilnya Aya, mungkin aku memang terpengaruh sosok Aya yang diperankan Zaskia Adiya Meka di sinetron Para Pencari Tuhan, Bukan karena namaku Azam, jadi aku ingin dia menjadi Aya, tetapi karena bawelnya, ngambeknya, semua, ia mirip Aya.
akrab dengannya sudah lama, aku kenal sejak kecil, kami satu pesantren dan kami sering ditugasi beberapa kegiatan-kegiatan di pesantren, kami punya misi yang sama untuk pesantren ini, dan aku selalu ingin mewujudkannya.
Awalnya sih biasa,
Ya, memang, awalnya biasa, persahabatan kami, bahkan kadang aku menganggapnya kakak dan ia menganggapku adik, maklum usiaku lebih muda darinya, dia seumuran Kak Tami.
aku tidak tahu pastinya kapan aku mulai menyimpan sepotong duri beracun yang mereka sebut cinta, aku tak tahu. semua berlalu begitu saja, tiba-tiba seiring waktu.
Dulu ia sering mengomeliku tentang kesukaanku pada music-musik anak muda, seperti the Virgin atau pun Kotak, aku suka dua grup band itu sekali pun didominasi cewek, dan bagi bintang, aku cemen karena kesukaanku itu,
awalnya aku tidak peduli tapi lama-lama aku kangen dengan ejekannya itu,
“Masa laki-laki suka music gitu, cemen ah,”
aku punya penjelasan logis tiap diejek orang lain, tapi tidak dengan bintang, aku tak punya jawaban, sampai ia mengenalkanku pada ‘shalawatan’ dan penyanyi favoritnya, Sulis, (red. itu lho yang di cinta rasul suka nyanyi bareng Hadad Alwi)
dulu saat masih kecil aku juga suka lihat Sulis, dan kini aku suka pada Sulis (lagi), aku suka tak hanya suaranya, tapi wajahnya, senyumnya, tutur katanya, semua, aku benar-benar pindah aliran, dari idolaku setipe Mitha the Virgin or Chua Kotak, berubah menjadi gadis muslimah yang anggun, Sulis Cinta RAsul.
aku suka, aku ngefans, bahkan kalau boleh, aku ingin menjadi suaminya, ngayal.
krek
tombol stop di music player ku tekan keras, bunyinya seperti pukulan telak bagiku,
suara Sulis yang menyenandungkan alunan surga, menghilang seketika,
berganti perih yang memutari seluruh hatiku,
klik
play pada lagu lain berlanjut
aku tertunduk,
“aku berhenti berharap, dan menunggu datang gelap, hingga nanti suatu saat tak ada cinta ku dapat……”
berganti alunan Sheila on7
mengalun lembut,
mewakili rasaku
“Kamu iktikaf apa ndengerin music tah le?”
suara lembut seorang lelaki paruh baya mengagetkanku,
Ustadz,
oh aku malu sekali, rupanya ustadz memperhatikanku sedari tadi.
“Afwan Ustadz,”
segera kumatikan music playerku, kulepas headset
“Hatimu sedang ndak menentu ya?”
aku hanya menunduk.
“Ikhlaskan,”
suara ustadz seakan gema lirih yang menggetarkanku,
andai aku tahu seperti apa sebenarnya ikhlas itu.
apakah ikhlas adalah tersenyum memandangnya bersanding dengan lelaki lain,
apakah ikhlas itu menganggap semua yang ku lihat tidak ada,
apakah ikhlas itu lebih baik tak melihat kejadian itu, menyepi, menangisi sendiri,
entah lah, apapun itu ikhlas, hatiku tetap perih, leherku tetap tercekik, padahal sudah dua minggu yang lalu.
Ustadz Hanafi meninggalkanku, kini aku tertunduk, music playerku ku kantongi, duduk bersimpuh kini aku, tapi tak sepotong tasbih pun terucap dari bibirku,
aku diam, dan hanya itu yang bisa ku lakukan.
malam semakin larut, satu per satu santri meninggalkan masjid untuk istirahat, aku bisa menghitung hanya ada tiga santri di depanku yang tengah asyik memuji Tuhan, dan mungkin dua atau bahkan tak ada di belakangku, aku tak menoleh.
hening,
dikeheningan aku berfikir,
hatiku bergetar ketika mengingatnya,
aku baru kali ini jatuh cinta, dan bodohnya aku jatuh cinta pada wanita yang sudah dikhitbah, bahkan kini aku lebih bodoh karena belum mengikhlaskannya, wanita yang akan menjadi isteri orang.
Ikhlas, apa itu?
Bullshitt!
bagaimana bisa ikhlas, aku hanya manusia biasa, yang punya cemburu, yang punya menyesal, yang punya lara, lara hati ini, sungguh, bagaimana bisa, apa mungkin bisa.
Cinta,
sebelumnya tidak ada seperti ini di kamus hidupku, karena cinta bagiku akan datang nanti dengan cara yang tepat dan orang yang tepat pula, lalu bagaimana mungkin aku begitu bodoh hingga jatuh cinta padanya, wanita yang hampir bersuami.
Tuhan,
beritahu aku bagaimana ikhlas itu,
aku gamang dengan satu kata itu, aku tak tahu maknanya, apalagi cara mengaplikasikannya, aku tak tahu.
Kini bibirku mulai bergumam pelan,
subhanallah
subhanallah
subhanallah
……..
sampai aku sendiri tak bisa mendengar suaraku.
Waktu pun berlalu, hari yang kutakutkan pun tiba, pernikahannya.
Ustadz Hanafi memberitahuku bahwa ada acara besar, karena Salya akan menikah, aku diminta menyiapkan marawis untuk dipertunjukkan pada saat resepsi pernikahan, tidak hanya itu, berhubung Ilham, vokalis marawis sedang mengikuti lomba di provinsi, akhirnya aku yang harus turun menjadi vokal.
Aku tertunduk di teras pesantren, “Akhi, besok siap ya?” ucap Hilda, vokalis putri. Aku tersenyum tipis.
Mereka tidak tahu hatiku hancur berkeping-keping saat itu.
Semalaman aku tidak bisa tidur, aku masih terduduk pilu di kamar pesantren, aku sengaja tak pulang, aku pikir jika di pesantren aku jadi banyak teman, dan bisa sejenak melupakannya, tapi bintang tetaplah berkelip tiap malam, tak terkalahkan oleh kedipan lampu-lampu yang menghiasi kota, tetap saja aku mengingatnya, karena hatiku benar-benar tak kuasa, akhirnya sepotong dosa ku kirim, ya sms, aku mengirimi wanita yang besok akan melangsungkan akad nikah, dengan kalimat,
‘Aya, hatiku perih malam ini, aku ingin besok tak segera datang, aku ingin malam ini kita berlari ke suatu tempat, menyepi, dan menghilang, tak apalah aku menjadi angin, asal bersamamu.’
Entah apa yang aku pikirkan malam itu, tapi aku mengirim sms itu, entah pula setan apa yang meracuni otakku, kenapa hatiku begitu rapuh, aku tak bisa menjaga hati dengan baik, tidakkah aku melihat kenyataan, tidakkah aku melihat kebahagiaannya bersama suaminya nanti, harusnya tak apa aku sakit, asal dia bahagia, tapi entah pula kenapa aku berfikir dia tak bahagia, dia hanya bahagia jika bersamaku.
Mataku hampir menutup saat handphone ku bergetar menandakan diterimanya sepotong pesan.
‘Maaf Zam, nasi sudah menjadi bubur, ikhlaskan aku,’
Tanpa sadar air mataku meleleh dibuatnya, apa-apaan kau bintang, kau membuat aku menangis, bodoh, kau bodoh bintang, aku yang mencintaimu, dan aku yang kau cintai, bukan dia, kau menerimanya karena perjodohan kan, karena kau tak bisa menolak orang baik yang mempersuntingmu kan, karena keluargamu kan, bukan karena kau memang sejak awal jatuh cinta padanya, sadarlah bintang, aku lah yang bisa membuatmu jatuh cinta.
Aku tergugu malam itu, menutup wajahku dengan selimut. Kutahan suara yang mungkin saja bisa terdengar teman sekamar di pesantren.
Aku menghela nafas berat,
Astaghfirullohaladzim....
Astaghfirullohaladzim....
Astaghfirullohaladzim....
......
Dan aku pun terlelap, dan pagi pun datang.
Sekuat hati aku mencoba tersenyum, baju yang ku kenakan adalah koko biru laut, dia akan terpesona, dia pernah bilang dia suka melihat aku memakai baju ini, picik sekali aku ini, aku bahkan berharap keajaiban muncul seperti dalam senetron televisi, ya keajaiban muncul saat ia berteriak dan memilih aku sebagai mempelai laki-lakinya, ahh apa ini, setan mungkin merasuk ke dalam hatiku lagi, ikhlas Zam, ikhlas...
Aku sengaja menjauhkan diri saat acara ijab qabul, meskipun aku tetap mendengar suara laki-laki itu dengan tegas menyebut namanya. Aku menyepi di samping rumah, tapi aku malah melihatnya, bodohnya aku, untuk apa aku bersembunyi tapi malah melihat wajahnya dengan jelas dari jendela, tampak dia duduk dikelilingi keluarganya, dan menangis haru saat ijab qabul selesai diucapkan.
Aku lemas seketika, hatiku benar-benar hancur berkeping-keping, salah siapa ini, kenapa aku harus jatuh cinta padanya, dan kenapa aku tak bisa membuang perasaan ini.
Ikhlas Zam, ikhlas....
Bisikku perih pada diriku sendiri
Puing,
28.05.17
Waow... mengharu biru banget..
BalasHapusKisah nyata bukan ini?
Dari curhatan temen mba, tapi temenku cewe, ini aku sebagai cowo yang diceritakan, hehe... Makasih mba..
HapusAya memang mempesona ya *eh
BalasHapusNice story
Hehe iya mba... Makasih sudah mampir...
Hapus