Jumat, 19 Mei 2017

Puisi


Akulah nuri kecil yang patah sayapnya, 

[ sebuah kalimat dari seorang sahabat, b0leh ku tulis tentangmu kawan ]

bagaimana mungkin seorang  memilih mawar kuncup yang telah patah dari rantingnya, 

jika ada pun, tak lebih dari pengasianan. . . 

`ia begitu sempurna, untuk sekedar ku tatap, dan ia menujuku, ia mencariku, tanpa tahu siapa aku, tanpa berfikir, ada poison di hatiku, aku tak sejernih embun yang kau impikan, aku tak seindah pelangi yang kau harapkan. 
Hanya apel mentah yg terjatuh dari pohonnya, berbaur dg lumpur, kotor, tak lengkap, pincang, tak sempurna.. 

`jika kau cari terindah dari hati perempuan, maka tak kau temukan padaku, aku bukan yang terindah.. 

[ hentikan tulisan ini, ada mata yang salah membacanya ] 

tidak teman, ini hanya kata yang ingin ku ukir di telapak tanganmu, ketika kau menggapaiku kala terjatuh. . . 
`aku lah puing itu, puing sisa k0baran api tadi pagi, 
`aku lah deras hujan, menghujam pertiwi dalam belati bebentuk air, 
`aku dan aku`
temanku, aku ingin kau di sini, memelukmu sembari menangis, membuncahkan segala lara ini. . . 
`akulah kumpulannya terbuang`
s0batku, 
kembali padaku, aku ingin memelukmu seperti dulu, . . . 
Aku merindumu Bulanku, sangat. .
_bermacam dari sang pesakitan ilusi. 

Puing
23.08.10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar