Sanksi,
sepotong ejekan...”
“Celana Jeans, satu, dua,
tiga, empat, lima, enam…. dan
satu trining olah raga,”
Hahaha…..
Tawa pecah di dalam
sebuah gerbong kereta api kaligung express
jurusan Semarang. Kali itu kami para mahasiswa penerima beasiswa diwajibkan
mengikuti upacara pembukaan Dies Natalis kampus di Semarang. Tujuh di antara kami
termasuk aku dan Bulan memilih menggunakan transportasi kereta api untuk menuju
ke sana .
Dan konyolnya, kenapa
Bulan mengenakan trining olah raga untuk berangkat, kayak nggak punya celana
lain aja.
“Semiskin-miskinnya
kamu masa sih sampai celana jeans aja nggak kebeli,” suaraku kembali menggema
di antara deru dan decitan kereta.
“Di pasar loak
itu banyak, murah-murah pula,” ujarku serius.
Ahh Bulan,
perempuan itu selalu pantas untuk kujadikan bahan lelucon, salah dia sendiri,
salah dia sendiri kumal. Apa susahnya menjadi modis seperti teman-teman yang
lain, mau pilih style apa juga silahkan lah. Gaya sporty, feminim, atau anggun,
ehh ni bocah malah kagak tau style apa, semrawut di mataku.
Terus saja kuledekin dia,
tak hanya karena celana yang ia kenakan tapi semua termasuk kulitnya yang hitam
dan tanpa make up sedikit pun, terus saja, kalau ada yang ngajak bicara Bulan
selalu saja aku bilang, “Gak usah ngobrol sama orang jelek…”
Teman-teman yang lain
girang banget ikut meledekinya, dan awalnya ia masih ketawa-ketiwi nyantai
seperti biasanya, tapi tiba-tiba ia membuang pandangan ke luar jendela,
selanjutnya ia menelungkupkan wajahnya ke bahu Helena, teman karibnya.
Bulan menangis…
“Kenapa sih
kamu suka banget ngeledekin Bulan, kasihan tau,” tanya seorang teman di
sampingku.
“Nggak tau,
seneng aja, bukankah semua orang gitu, kita ketawa kan kalau lihat orang
kepleset?” jawabku membandingkan.
“Ya, tapi kan
kasihan,”
Aku diam, benar
kasihan, tapi aku tetap membela diri untuk tindakanku ini, aku suka
melakukannya, menghina dia kapan pun dan dimana pun, puas aku kalau sudah
memojokkan dia, dan herannya dia tak pernah berubah, tetap terlihat kumuh dan
pantas untuk aku pojokkan.
“Kamu itu suka
sama Bulan,” seru seorang teman tiba-tiba saat aku asik mengantuk di gerbong.
“Hah?!” bengong
sendiri aku gara-gara kata-katanya.
“Kamu selalu
mengganggunya karena kamu ingin dapat perhatiannya kan?! Ingin dia menjadi apa
yang kamu katakan,” lanjutnya.
Aku tidak menjawab,
pura-pura kembali ngantuk.
Hanya berfikir,
“Iya kah aku suka?!”
Mungkin dulu,
Lalu kenapa kau
menyakitinya, mengejeknya sampai ia sering sekali menangis karena ulahmu,
Tiap orang
punya cara sendiri untuk mencintai bukan,
Ahh aku
mengiyakan perasaanku akhirnya. Meski aku tahu, ia jauh dari mimpiku, ia tidak
akan aku dapat seberbuat baik apapun aku padanya, ia tak akan jatuh cinta
padaku, makanya ini pilihanku.
Suara ting tong
berbunyi pertanda kereta hendak sampai di stasiunnya, para penumpang bangkit
menyiapkan barang bawaannya,
“Hei pembantu,
tasku mana?” tanyaku sambil mendorong punggungnya. Beberapa orang di gerbong
sempat ikut menoleh mendengar suaraku.
Dia mengambil
tas di bagasi atas dan melemparnya padaku, “Makasih pembantuku...”
Ia mendekat ke
arahku.
“Cukup Ren, aku
akan menganggapmu tak ada,” suaranya parau.
Aku cuek saja
dengan omongannya,
Tapi aku salah,
menit demi menit berlalu, hari pun silih berganti, dia benar-benar pergi, ada
tapi seolah tak melihatku, ada tapi seolah tak mendengarku, apa saja yang aku
katakan menjadi buih, apa saja yang aku lakukan bak asap, membumbung ke langit
dan hilang.
“Hei kumal,
bajumu itu sama kayak penjual tahu yang lewat depan rumahku tau?!” teriakku
kembali memulai mengejeknya.
Tapi, dia diam.
Dia seakan tak mempedulikan ucapanku, ahh aku bicara sendiri.
Hari berganti
terus, dia terlambat masuk kelas, sengaja ku julurkan kakiku saat dia lewat dan
“Buuukkk” terjerembablah ia. Aku pikir dia akan berbalik dan memukulku seperti
dulu, tapi dia bangkit dan duduk di kursinya, seolah tak terjadi apa-apa, ia
bahkan tak menhiraukan beberapa teman yang tertawa.
Dia benar-benar
tak menganggapku.
Kuliah selesai,
aku langsung menarik lengannya dengan kuat, ia berusaha melepaskan tapi
percuma, tenaganya yang lemah tak akan berhasil.
Aku menyeretnya
menuju samping kelas, “Kamu kenapa sih?” teriakku sambil melepaskan
cengkeramanku. Ia tak menjawab apa-apa dan pergi ngeloyor begitu saja, “Hei!”
bentakku, “Berhenti!” aku mengejarnya.
“Nana tunggu!”
suaranya memanggil seseorang yang baru saja lewat.
“Hei!” aku
mengejarnya tapi ia segera berlalu, meninggalkanku di bawah terik sang surya,
aku terbakar hingga menjadi abu dan hilang.
Ternyata ini
hukumanku,
Tak dianggap
ternyata jauh lebih menyakitkan dari pada dibenci. Tiga tahun lebih ku lalui
dengan mengejeknya sampai habis, dan di tahun keempat ini, aku yang habis, ya
aku justru yang habis.
Aku tak
dianggap ada. Aku merasa seperti apa, ahh aku benar-benar hampa, ternyata
seperti ini. Seperti ini menjadi uap, seperti ini menjadi abu, seperti ini
hilang dari pandangannya. Aku terduduk diam tak mengerti. Ini hukumanku, iya
kah?!
Puing,
06.06.17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar