Senin, 05 Juni 2017

Cerpen #Tugas #SmansaMenulis02 #Tema:Bully

Sanksi, sepotong ejekan...”

“Celana Jeans, satu, dua, tiga, empat, lima, enam…. dan satu trining olah raga,”
Hahaha…..
Tawa pecah di dalam sebuah gerbong kereta api kaligung express jurusan Semarang. Kali itu kami para mahasiswa penerima beasiswa diwajibkan mengikuti upacara pembukaan Dies Natalis kampus di Semarang. Tujuh di antara kami termasuk aku dan Bulan memilih menggunakan transportasi kereta api untuk menuju ke sana.
Dan konyolnya, kenapa Bulan mengenakan trining olah raga untuk berangkat, kayak nggak punya celana lain aja.
“Semiskin-miskinnya kamu masa sih sampai celana jeans aja nggak kebeli,” suaraku kembali menggema di antara deru dan decitan kereta.
“Di pasar loak itu banyak, murah-murah pula,” ujarku serius.
Ahh Bulan, perempuan itu selalu pantas untuk kujadikan bahan lelucon, salah dia sendiri, salah dia sendiri kumal. Apa susahnya menjadi modis seperti teman-teman yang lain, mau pilih style apa juga silahkan lah. Gaya sporty, feminim, atau anggun, ehh ni bocah malah kagak tau style apa, semrawut di mataku.
Terus saja kuledekin dia, tak hanya karena celana yang ia kenakan tapi semua termasuk kulitnya yang hitam dan tanpa make up sedikit pun, terus saja, kalau ada yang ngajak bicara Bulan selalu saja aku bilang, “Gak usah ngobrol sama orang jelek…”
Teman-teman yang lain girang banget ikut meledekinya, dan awalnya ia masih ketawa-ketiwi nyantai seperti biasanya, tapi tiba-tiba ia membuang pandangan ke luar jendela, selanjutnya ia menelungkupkan wajahnya ke bahu Helena, teman karibnya.
Bulan menangis…
“Kenapa sih kamu suka banget ngeledekin Bulan, kasihan tau,” tanya seorang teman di sampingku.
“Nggak tau, seneng aja, bukankah semua orang gitu, kita ketawa kan kalau lihat orang kepleset?” jawabku membandingkan.
“Ya, tapi kan kasihan,”

Aku diam, benar kasihan, tapi aku tetap membela diri untuk tindakanku ini, aku suka melakukannya, menghina dia kapan pun dan dimana pun, puas aku kalau sudah memojokkan dia, dan herannya dia tak pernah berubah, tetap terlihat kumuh dan pantas untuk aku pojokkan.

“Kamu itu suka sama Bulan,” seru seorang teman tiba-tiba saat aku asik mengantuk di gerbong.
“Hah?!” bengong sendiri aku gara-gara kata-katanya.
“Kamu selalu mengganggunya karena kamu ingin dapat perhatiannya kan?! Ingin dia menjadi apa yang kamu katakan,” lanjutnya.
Aku tidak menjawab, pura-pura kembali ngantuk.
Hanya berfikir, “Iya kah aku suka?!”
Mungkin dulu,
Lalu kenapa kau menyakitinya, mengejeknya sampai ia sering sekali menangis karena ulahmu,
Tiap orang punya cara sendiri untuk mencintai bukan,
Ahh aku mengiyakan perasaanku akhirnya. Meski aku tahu, ia jauh dari mimpiku, ia tidak akan aku dapat seberbuat baik apapun aku padanya, ia tak akan jatuh cinta padaku, makanya ini pilihanku.

Suara ting tong berbunyi pertanda kereta hendak sampai di stasiunnya, para penumpang bangkit menyiapkan barang bawaannya,
“Hei pembantu, tasku mana?” tanyaku sambil mendorong punggungnya. Beberapa orang di gerbong sempat ikut menoleh mendengar suaraku.
Dia mengambil tas di bagasi atas dan melemparnya padaku, “Makasih pembantuku...”
Ia mendekat ke arahku.
“Cukup Ren, aku akan menganggapmu tak ada,” suaranya parau.
Aku cuek saja dengan omongannya,

Tapi aku salah, menit demi menit berlalu, hari pun silih berganti, dia benar-benar pergi, ada tapi seolah tak melihatku, ada tapi seolah tak mendengarku, apa saja yang aku katakan menjadi buih, apa saja yang aku lakukan bak asap, membumbung ke langit dan hilang.
“Hei kumal, bajumu itu sama kayak penjual tahu yang lewat depan rumahku tau?!” teriakku kembali memulai mengejeknya.
Tapi, dia diam. Dia seakan tak mempedulikan ucapanku, ahh aku bicara sendiri.
Hari berganti terus, dia terlambat masuk kelas, sengaja ku julurkan kakiku saat dia lewat dan “Buuukkk” terjerembablah ia. Aku pikir dia akan berbalik dan memukulku seperti dulu, tapi dia bangkit dan duduk di kursinya, seolah tak terjadi apa-apa, ia bahkan tak menhiraukan beberapa teman yang tertawa.
Dia benar-benar tak menganggapku.
Kuliah selesai, aku langsung menarik lengannya dengan kuat, ia berusaha melepaskan tapi percuma, tenaganya yang lemah tak akan berhasil.
Aku menyeretnya menuju samping kelas, “Kamu kenapa sih?” teriakku sambil melepaskan cengkeramanku. Ia tak menjawab apa-apa dan pergi ngeloyor begitu saja, “Hei!” bentakku, “Berhenti!” aku mengejarnya.
“Nana tunggu!” suaranya memanggil seseorang yang baru saja lewat.
“Hei!” aku mengejarnya tapi ia segera berlalu, meninggalkanku di bawah terik sang surya, aku terbakar hingga menjadi abu dan hilang.
Ternyata ini hukumanku,
Tak dianggap ternyata jauh lebih menyakitkan dari pada dibenci. Tiga tahun lebih ku lalui dengan mengejeknya sampai habis, dan di tahun keempat ini, aku yang habis, ya aku justru yang habis.
Aku tak dianggap ada. Aku merasa seperti apa, ahh aku benar-benar hampa, ternyata seperti ini. Seperti ini menjadi uap, seperti ini menjadi abu, seperti ini hilang dari pandangannya. Aku terduduk diam tak mengerti. Ini hukumanku, iya kah?!

Puing,

06.06.17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar