“Haruskah ku panggil dia Ibu?”
“Haruskah ku panggil dia Ibu?” tanyaku pada bayanganku
sendiri dalam cermin.
Dia sudah datang, setiap lebaran dia selalu datang untuk
mengunjungiku, ahh kenapa harus setiap lebaran, bukan setiap hari. Marah, tentu
saja aku marah, aku anaknya katanya, apa aku Cuma anaknya ketika lebaran saja,
ahh menyebalkan.
Aku masih menatap bayanganku dalam cermin.
Andai sajah wajah ini tak mirip. Hah apa guna wajah mirip
begini toh ia tak setiap hari aku dianggapnya anak, sedangkan anak-anak yang
lain justru bersamanya tiap waktu, yang ia sebut, full time mom, huek...
Gigiku bergemelutuk sendiri menahan amarah. Ibu, ya dia
ibuku. Dia ibuku yang meninggalkanku sejak aku kecil dan memilih memiliki
keluarga baru, hidup bahagia bersama mereka, dan aku, kesepian di sini. Untung
masih ada simbah
“Nur, sudah belum, ini ibumu sudah menunggu dari tadi,” suara
simbah di balik pintu.
Ku buka pintu kamarku perlahan, simbah membelai kepalaku
dengan lembut.
“Dia itu ibumu Nak,”
Aku hanya menghela nafas pelan.
“Bukankah semua yang ia lakukan meski menurutmu kurang tapi
tak sebanding dengan pengorbanannya memperjuangkanmu hingga terlahir di dunia
ini dengan sehat, menyusuimu hingga kau dua tahun, mengasuhmu meskipun
sendirian, dia memang tak bersamamu tiap hari, tapi percayalah, dia mendoakanmu
tiap waktu, dia surgamu, Nak.”
Aku masih terdiam meskipun buliran tirani sudah menggenang di
muara mataku.
“Simbah juga seorang ibu,”
Aku memeluk simbah erat, “Baik mbah, aku mengerti,” dan aku
pun bangkit menemuinya, menemui malaikat yang sering kusiakan, malaikat yang
harusnya selalu ku sanjung tapi malah ku singkurkan, ahh ibu, maafkan aku...
Tentu, harus aku memanggilmu Ibu.
: puing ‘widya’ kanaya
02.05.17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar